Gunung Slamet merupakan gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru dan tertinggi di Jawa Tengah dengan ketinggian 3. 428 m dpl. Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah. Gunung ini memiliki karakter jalur pendakian yang sulit dan kering, serta pemandangannya yang indah menjadikan gunung ini istimewa. Gunung Slamet masih mempunyai keanekaragaman hayati yang bagus, dengan pohon-pohon besarnya yang didominasi oleh pohon damar serta berbagai jenis satwa liar yang masih dapat bertahan.
Gunung Slamet mempunyai medan pendakian yang cukup berat. Jalur pendakian standar adalah dari Blambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga. Jalur populer lain adalah dari Baturraden dan dari Desa Gambuhan, Desa Jurangmangu dan Desa Gunungsari di Kabupaten Pemalang. Selain itu adapula jalur yang baru saja diresmikan tahun 2013 lalu, yaitu jalur Dhipajaya yang terletak di Kabupaten Pemalang.
Pendakian Gunung Slamet dikenal cukup sulit karena hampir di sepanjang rute pendakian tidak ditemukan air. Pendaki disarankan untuk membawa persediaan air yang cukup dari bawah. Faktor penyulit lain adalah kabut. Kabut di Gunung Slamet sangat mudah berubah-ubah dan pekat. Pada puncaknya, terdapat 4 kawah yang masih aktif.
Jalur pendakian lainnya adalah melalui obyek wisata pemandian air panas Guci, Kabupaten Tegal. Meskipun terjal, rute ini menyajikan pemandangan yang paling baik. Kawasan Guci dapat ditempuh dari Slawi menuju daerah Tuwel melewati Lebaksiu.
Untuk mendaki gunung Slamet ada tiga buah pintu masuk yaitu melalui: Bambangan, Batu Raden dan Kaliwadas. Saran untuk mendaki Gunung Slamet sebaiknya dilakukan pada musim panas. Hal ini karena jalur pendakian lebih cenderung licin saat musim hujan. Untuk pendakian, dibutuhkan mental dan ketahanan fisik yang baik.
Jalur pendakian Bambangan adalah jalur pendakian Gunung Slamet yang paling populer di kalangan pendaki. Jalur pendakian Bambangan adalah yang paling pendek dibandingkan dengan jalur pendakian lain. Rute pendakian Gunung Slamet bila melalui Bambangan yaitu dari pos pendakian melewati perkebunan penduduk terlebih dahulu, sebelum mencapai Pondok Pemandangan/ Pondok Gembirin. Lalu bertemu beberapa shelter/ pos pendakian anatara lain: Pos II, Pos III, Pos IV (Pondok Samanrantu), dan Pos V. Di Pos V ini biasanya para pendaki beristirahat dan mendirikan tenda. Hal ini karena hari yang sudah sore dan juga mata air di jalur pendakian ini hanya ada di Pos V.
Keesokan harinya biasanya para pendaki baru meneruskan pendakian untuk menuju puncak Gunung Slamet. Dalam perjalanan, akan melalui beberapa pos lagi, seperti: Pos VI (Shangyang Jampang), Pos VII (Shangyang Keraton), Pos VIII (Shangyang Kendit) dan Pos IX (Plawangan).
Mulai dari Pos Plawangan, pendaki sudah tidak menemukan hutan dan tanaman lagi. Medan pendakian telah berubah menjadi bebatuan dan kerikil. Tak lama setelah melalui Plawangan, pendaki telah mencapai puncak Gunung Slamet.
Asal-usul Gunung Slamet
Syeh Maulana Maghribi adalah penyebar agama islam yang secara kebetulan beliau juga seorang pangeran dari negeri Rum-Turki. Suatu hari saat fajar menyingsing setelah melaksanakan sholat subuh, Syeh Maulana melihat cahaya misterus yang menjulang tinggi di angkasa. Sang Pangeran ingin mengetahui dari mana arah mana cahaya misterius itu datang dan apa arti fenomena itu. Kemudian beliau memutuskan untuk menyelidikinya dengan ditemani pengikutnya yang sangat setia yang bernama Haji Datuk serta ratusan pengawal kerajaan.
Mereka berlayar menuju arah cahaya misterius. Setelah kapal yang ditumpanginya sampai di pantai Gresik-Jawa Timur, tiba-tiba cahaya tersebut muncul disebelah barat dan pangeran beserta pengawal kerajaan pergi berlayar kearah barat dan sampailah di pantai Pemalang Jawa Tengah.
Disini, Syeh Maulana menyuruh para pembantunya untuk pulang ke Turki. Sementara beliau melanjutkan perjalanannya dengan ditemani Haji Datuk dengan berjalan kaki kearah selatan sambil menyebarkan agama Islam. Ketika beliau melewati daerah Banjar, tiba-tiba beliau menderita sakit gatal disekujur tubuhnya dan penyakit gatalnya itu pun sulit disembuhkan. Suatu malam setelah menjalankan sholat tahajjud, pangeran mendapat ilham bahwa beliau harus pergi ke Gunung Gora. Setibanya dilereng Gunung Gora, beliau meminta Haji Datuk untuk meninggalkan sendiri dan menunggu disuatu tempat yang mengeluarkan kepulan asap.
Ternyata disitu ada sumber air panas yang mempunyai tujuh buah pancuran. Syeh Maulana memutuskan tinggal disini untuk berobat dengan mandi secara teratur di sumber air panas yang memiliki tujuh buah mata air. Puji syukur kehadirat Allah akhirnya penyakit yang dideritanya sembuh total.
Kemudian Syeh Maulana memberi nama tempat ini menjadi Pancuran Tujuh. Penduduk sekitar menyebut Syeh Maulana dengan nama mbah Atas Angin karena datang dari negeri yang jauh. Kemudian Syeh Maulana Maghribi memberi gelar kepada Haji Datuk dengan sebutan Rusuludi yang dalam bahasa jawa berarti Batur kang Adi (Abdi yang setia). Kemudian desa itu dikenal dengan sebutan Baturadi yang lama kelamaan menjadi Baturaden yang dalam penulisannya menggunakan satu "R" yaitu: BATURADEN. Karena Syeh Maulana mendapat kesembuhan penyakit gatal dan keselamatan di lereng Gunung Gora maka beliau mengganti nama menjadi Gunung Slamet.
Gunung Slamet mempunyai medan pendakian yang cukup berat. Jalur pendakian standar adalah dari Blambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga. Jalur populer lain adalah dari Baturraden dan dari Desa Gambuhan, Desa Jurangmangu dan Desa Gunungsari di Kabupaten Pemalang. Selain itu adapula jalur yang baru saja diresmikan tahun 2013 lalu, yaitu jalur Dhipajaya yang terletak di Kabupaten Pemalang.
Pendakian Gunung Slamet dikenal cukup sulit karena hampir di sepanjang rute pendakian tidak ditemukan air. Pendaki disarankan untuk membawa persediaan air yang cukup dari bawah. Faktor penyulit lain adalah kabut. Kabut di Gunung Slamet sangat mudah berubah-ubah dan pekat. Pada puncaknya, terdapat 4 kawah yang masih aktif.
Jalur pendakian lainnya adalah melalui obyek wisata pemandian air panas Guci, Kabupaten Tegal. Meskipun terjal, rute ini menyajikan pemandangan yang paling baik. Kawasan Guci dapat ditempuh dari Slawi menuju daerah Tuwel melewati Lebaksiu.
Untuk mendaki gunung Slamet ada tiga buah pintu masuk yaitu melalui: Bambangan, Batu Raden dan Kaliwadas. Saran untuk mendaki Gunung Slamet sebaiknya dilakukan pada musim panas. Hal ini karena jalur pendakian lebih cenderung licin saat musim hujan. Untuk pendakian, dibutuhkan mental dan ketahanan fisik yang baik.
Jalur pendakian Bambangan adalah jalur pendakian Gunung Slamet yang paling populer di kalangan pendaki. Jalur pendakian Bambangan adalah yang paling pendek dibandingkan dengan jalur pendakian lain. Rute pendakian Gunung Slamet bila melalui Bambangan yaitu dari pos pendakian melewati perkebunan penduduk terlebih dahulu, sebelum mencapai Pondok Pemandangan/ Pondok Gembirin. Lalu bertemu beberapa shelter/ pos pendakian anatara lain: Pos II, Pos III, Pos IV (Pondok Samanrantu), dan Pos V. Di Pos V ini biasanya para pendaki beristirahat dan mendirikan tenda. Hal ini karena hari yang sudah sore dan juga mata air di jalur pendakian ini hanya ada di Pos V.
Keesokan harinya biasanya para pendaki baru meneruskan pendakian untuk menuju puncak Gunung Slamet. Dalam perjalanan, akan melalui beberapa pos lagi, seperti: Pos VI (Shangyang Jampang), Pos VII (Shangyang Keraton), Pos VIII (Shangyang Kendit) dan Pos IX (Plawangan).
Mulai dari Pos Plawangan, pendaki sudah tidak menemukan hutan dan tanaman lagi. Medan pendakian telah berubah menjadi bebatuan dan kerikil. Tak lama setelah melalui Plawangan, pendaki telah mencapai puncak Gunung Slamet.
Asal-usul Gunung Slamet
Syeh Maulana Maghribi adalah penyebar agama islam yang secara kebetulan beliau juga seorang pangeran dari negeri Rum-Turki. Suatu hari saat fajar menyingsing setelah melaksanakan sholat subuh, Syeh Maulana melihat cahaya misterus yang menjulang tinggi di angkasa. Sang Pangeran ingin mengetahui dari mana arah mana cahaya misterius itu datang dan apa arti fenomena itu. Kemudian beliau memutuskan untuk menyelidikinya dengan ditemani pengikutnya yang sangat setia yang bernama Haji Datuk serta ratusan pengawal kerajaan.
Mereka berlayar menuju arah cahaya misterius. Setelah kapal yang ditumpanginya sampai di pantai Gresik-Jawa Timur, tiba-tiba cahaya tersebut muncul disebelah barat dan pangeran beserta pengawal kerajaan pergi berlayar kearah barat dan sampailah di pantai Pemalang Jawa Tengah.
Disini, Syeh Maulana menyuruh para pembantunya untuk pulang ke Turki. Sementara beliau melanjutkan perjalanannya dengan ditemani Haji Datuk dengan berjalan kaki kearah selatan sambil menyebarkan agama Islam. Ketika beliau melewati daerah Banjar, tiba-tiba beliau menderita sakit gatal disekujur tubuhnya dan penyakit gatalnya itu pun sulit disembuhkan. Suatu malam setelah menjalankan sholat tahajjud, pangeran mendapat ilham bahwa beliau harus pergi ke Gunung Gora. Setibanya dilereng Gunung Gora, beliau meminta Haji Datuk untuk meninggalkan sendiri dan menunggu disuatu tempat yang mengeluarkan kepulan asap.
Ternyata disitu ada sumber air panas yang mempunyai tujuh buah pancuran. Syeh Maulana memutuskan tinggal disini untuk berobat dengan mandi secara teratur di sumber air panas yang memiliki tujuh buah mata air. Puji syukur kehadirat Allah akhirnya penyakit yang dideritanya sembuh total.
Kemudian Syeh Maulana memberi nama tempat ini menjadi Pancuran Tujuh. Penduduk sekitar menyebut Syeh Maulana dengan nama mbah Atas Angin karena datang dari negeri yang jauh. Kemudian Syeh Maulana Maghribi memberi gelar kepada Haji Datuk dengan sebutan Rusuludi yang dalam bahasa jawa berarti Batur kang Adi (Abdi yang setia). Kemudian desa itu dikenal dengan sebutan Baturadi yang lama kelamaan menjadi Baturaden yang dalam penulisannya menggunakan satu "R" yaitu: BATURADEN. Karena Syeh Maulana mendapat kesembuhan penyakit gatal dan keselamatan di lereng Gunung Gora maka beliau mengganti nama menjadi Gunung Slamet.
Advertisement
